Kenapa Golput…???
Banyak Alasan Menjadi Golput, dan siapa pun berhak mengklaim alasan yang ia jadikan landasan adalah alasan yang benar…
Golput seringkali terjadi karena beberapa alasan induk ; seperti
1. Terhambat oleh regulasi yang berkaitan dengan Pemilu.
Individu tidak terdaftar sebagai pemilih, tidak menerima kartu pemilih, bahkan mungkin karena kehilangan KTP/SIM, gak punya duit untuk mengurus salah satu dari keduanya, maka ia tidak bisa menjadi pemilih (no Id belongs to him/her).
Individu atau pihak yang mungkin dapat dipersalahkan atas hal ini, selain diri ybs, boleh jadi dari pihak KPU melalui lembaga eksekusi yang mereka bentuk seperti KPPS, Lurah, hingga pada titik paling ujung, kurang paripurna-nya kegiatan KPU tingkat pusat secara lembaga. Individu yang kehilangan kesempatan memilih, padahal ia tidak kehilangan haknya, maka akan “Golput” karena keadaan… Hemat saya, mereka bukanlah Golput dalam artian yang sesungguhnya, tetapi kurang beruntung untuk memenuhi hak mereka.
2. Kelelahan secara Politik
Individu yang tidak memilih, telah mendapatkan pengalaman yang berharga selama ia menjalani proses pemilu-pemilu sebelumnya. Ia tidak mendapatkan bahwa aspirasi yang ia usung dan atau aspirasi masyarakat secara komunal, dapat diapresiasi oleh anggota dewan terpilih.. Individu ini, lebih dapat menghargai pilihan mereka sebagai bentuk “harapan” terakhir… Sejatinya, mereka dapat menjadi golput dengan memberdayakan kegolputan yang mereka miliki, tapi keadaan ekonomi, serta pengalaman pahit yang mereka terima, mungkin lebih dominan dibandingkan harapan yang layak ada pada dirinya. Ia sadar tidak memilih, hanya semata-mata pertimbangan pribadi yang ia miliki.
Anggota masyarakat yang memilih Golput dengan alasan ini, secara ideal adalah individu yang faham tentang hak politik mereka. Mereka pun paham, bahwa mereka dapat tidak hanya menggantungkan harapan, melainkan juga menuntut harapan mereka dapat direalisasikan oleh anggota dewan terpilih. Golongan ini dalam hemat saya adalah golongan yang mau belajar, sekalipun apatis pada lapangan politik.
3. Sadar akan Ketidakberdayaan atau Keberdayaan Golongan Putih
Anggota masyarakat yang memilih pilihan ini sebagai pijakan golput yang mereka lakukan, sejatinya adalah individu yang menghargai hak sebagaimana kewajiban. Hak yang mereka terima, berdampak lurus dengan konsekuensi untuk menjaga hak secara paripurna. Mereka memahami, apabila hak yang mereka ambil (memilih) tapi dapat membawa dampak buruk bagi diri mereka maupun anggota masyarakat lain (terpilihnya anggota dewan yang tidak kompeten), maka mereka memilih untuk tidak mengambil hak tersebut.
Karena tingginya kesadaran untuk memenuhi hak, mereka pun tidak ragu untuk menyampaikan pijakan filosofis maupun praktis atas tindakan golput yang mereka lakukan, baik untuk lingkungan terdekat, maupun masyarakat secara umum. Kuncinya, mereka tidak menggurui, hanya memaparkan khazanah sebagai alat penentu pilihan…
Pada bagian lain, mereka juga berusaha, bahwa proses Golput yang mereka lakukan tidak berhenti dengan tidak memilih, maka kreativitas mereka terus asah, hingga pada tataran tertentu, dapat memberdayakan golput sebagai golongan yang benar-benar dianggap oleh masyarakat umum sebagai golongan “Yang Memilih untuk Tidak Memilih”.
Blog ini, secara ideal, dianggarkan untuk menjadi penghubung antara golongan satu, dua agar dapat menjadi golongan yang ketiga. Sekaligus membina golongan ketiga sebagai pembawa harapan pencerahan bagi golongan pertama dan kedua…Maka. golput atau siapa pun yang menganggarkan dirinya menjadi golput, secara ideal dapat saling mengisi sehingga “pemberdayaan sebagai proses” menjadi sesuatu yang niscaya.















Mungkin juga karena lelah atau bosan pada janji yang itu itu saja….
Sekalipun Indonesia sdh merdeka sejak 1945, tapi indahnya alam demokrasi itu kita baru mencicipinya sejak 1998 setelah sebelumnya dibungkam 30 tahun lebih. Wajar jika byk yg belum mengerti cara utk berdemokrasi dgn baik dan benar. Saya pribadi memahami jk politik nasional skrg ini belum sehat. Permasalahannya, jika hy mengambil keputusan utk tdk memilh (no vote decision) atau golput, kapan kita bisa berdemokrasi dgn baik dan benar? Saya menghargai apapun sikap dan keputusan, termasuk utk tdk memilih (golput). Tapi jgn lupa, di sini pembelajaran hrs terus berjalan. Mungkin Anda atau saya dan bbrp lainnya bisa berpikir dan memahami, tp bagaimana dengan calon-calon pemilih lainnya yg terlalu sibuk utk memenuhi kebutuhan hidup?
mari pak.. mari bu..